Jakarta,
1. Mengguncang Wall Street: Capex Rp 3.200 Triliun dan Target Pendapatan
Jika PHK menyiratkan penghematan, Amazon justru menunjukkan agresivitas luar biasa dalam belanja modal. Perusahaan menetapkan anggaran belanja modal (Capital Expenditure/Capex) untuk tahun fiskal 2026 sebesar US$ 200 miliar atau sekitar Rp 3.200 triliun (kurs Rp 16.000). Ini merupakan angka tertinggi yang pernah dialokasikan oleh perusahaan mana pun dalam sejarah selama satu tahun fiskal.
Dana jumbo tersebut terutama dialokasikan untuk infrastruktur Amazon Web Services (AWS) guna mendukung lonjakan permintaan AI generatif. Para analis memperkirakan sekitar 70% dari belanja modal tahun ini terkait langsung dengan AI, sementara sisanya untuk proyek ambisius seperti jaringan satelit Project Kuiper yang dijadwalkan beroperasi komersial pada pertengahan 2026.
Dengan ekspansi ini, pasar memperkirakan pendapatan kuartal pertama (Q1) 2026 akan menembus rekor. Analis memperkirakan pendapatan US$ 177,2 miliar hingga US$ 178,8 miliar, naik hampir 14% dibanding tahun lalu.
2. Perang AI: Menggandakan Investasi di OpenAI dan Antrophopic
Strategi AI Amazon tidak main-main. Perusahaan tidak hanya membangun perangkat keras sendiri (chip Trainium), tetapi juga menggelontorkan dana segar ke dua unicorn AI paling panas dunia.
Pekan ini terungkap bahwa Amazon menambah investasi sebesar US$ 5 miliar ke dalam perusahaan AI, Anthropic, pembuat model Claude. Sebelumnya, Amazon telah menggelontorkan US$ 4 miliar pada kemitraan awal mereka. Sebagai imbalan atas investasi besar ini, Anthropic setuju untuk membelanjakan lebih dari US$ 100 miliar selama 10 tahun ke depan pada layanan AWS.
Selain itu, kabar lain menyebutkan Amazon sedang dalam proses negosiasi investasi strategis yang lebih besar dengan OpenAI, pengembang ChatGPT, dengan angka yang disebut-sebut mencapai US$ 50 miliar. CEO Andy Jassy sebelumnya mengonfirmasi bahwa pendapatan tahunan dari bisnis chip AI-nya (Trainium) kini telah melampaui US$ 20 miliar dan tumbuh tiga digit persen.
3. Gugatan Hukum Baru: Tuduhan Fiksasi Harga Ala California
Di tengah sibuknya urusan bisnis, Amazon kembali harus menghadapi gedung pengadilan. Jaksa Agung California, Rob Bonta, merilis dokumen pengadilan yang baru dibuka pada Senin (20/4) yang berisi tuduhan baru bahwa Amazon melakukan praktik fiksasi harga (price fixing) ilegal.
Dalam dokumen setebal 16 halaman tersebut, California mengklaim bahwa Amazon secara sistematis menekan vendor besar seperti Levi Strauss & Co. dan Hanes untuk memaksa pesaing seperti Walmart menaikkan harga jual produk mereka di situs web lain.
Bukti yang dipaparkan dalam gugatan:
Pada tahun 2021, Amazon mengirim email ke Levi’s yang mengeluhkan harga celana khaki yang lebih murah di Walmart.com. Levi’s kemudian melapor telah menghubungi Walmart untuk menaikkan harga kembali ke US$ 29,99.
Dalam kasus lain, Amazon memblokir listing (daftar produk) mesin es krim dari Maxi-Matic Inc. hanya karena produk tersebut dijual lebih murah oleh pengecer lain.
Amazon membantah keras tuduhan ini. Juru bicara perusahaan menyebut gugatan tersebut sebagai upaya transparan untuk mengalihkan perhatian dari kelemahan kasus hukum yang diajukan pada 2022 lalu. "Amazon secara konsisten diidentifikasi sebagai pengecer online dengan harga termurah di Amerika," ujar perwakilan Amazon.
4. Pemberontakan Merchant: Boikot Biaya Iklan Mengancam Saham
Tantangan Amazon tidak hanya datang dari regulator, tetapi juga dari tulang punggung bisnisnya: para penjual pihak ketiga (third-party sellers). Para pedagang yang menyumbang lebih dari 60% penjualan di platform tersebut dilaporkan semakin geram dengan kebijakan biaya yang terus meningkat.
Pada April 2026, gelombang protes berubah menjadi aksi boikot yang terorganisir terkait perubahan kebijakan pembayaran iklan. Para seller mengeluhkan apa yang mereka sebut sebagai "kematian akibat seribu luka" (death by a thousand cuts), di mana berbagai biaya baru menggerus keuntungan mereka.
Pemberontakan ini menjadi risiko serius bagi pertumbuhan pendapatan iklan Amazon, yang selama ini menjadi mesin keuntungan utama perusahaan. Para analis akan mengamati dengan seksama komentar manajemen mengenai hubungan dengan seller dalam laporan pendapatan yang akan datang, karena isu ini berpotensi mempengaruhi valuasi saham AMZN yang saat ini sudah naik 41,4% dalam setahun terakhir.
Sorotan: Laporan Keuangan Pekan Ini
Para investor di seluruh dunia saat ini menahan napas menunggu rilis laporan keuangan kuartal pertama Amazon yang dijadwalkan dalam pekan ini. Selain angka penjualan, fokus utama akan tertuju pada:







Komentar
Tuliskan Komentar Anda!